Akhir-akhir ini, banyak orang yang mengaku
dirinya seorang thabib dan bisa mengobati berbagai macam penyakit dengan
mengistilahkan pengobatan alternatif, namun ternyata cara yang mereka
pergunakan adalah sihir dan perdukunan.
Sedangkan ajaran Islam sangat bertolak
belakang dengan kedua hal tersebut, sebab dua hal itu termasuk perbuataan kufur
dan syirik yang dapat membuat seseorang murtad dari Islam. Untuk itu Islam
sangat mewanti-wanti ummatnya agar menjaga kemurnian aqidah dan tauhidnya dari
unsur kekufuran dan kesyirikan.
Salah satu bentuk tindakan preventif untuk
mengantisipasi sihir dan perdukunan yakni kaum muslimin dilarang mendatangi,
konsultasi, dan percaya kepada dukun, tukang ramal, tukang sihir, paranormal,
orang pintar, ahli supranatural, orang yang punya indra ke-6, dan orang-orang
yang se-profesi dengan mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
"Barangsiapa yang mendatangi 'arrâf
lalu berkonsultasi tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40
hari" (HR.Muslim). “Arraf yaitu orang yang mengaku mengetahui kejadian
yang telah lalu, mengetahui siapa pencuri, barang curian ada di mana, dan
lain-lain.
Dalam hadits yang lain Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang datang kepada 'arrâf
atau kâhin (dukun) lalu dia membenar kan
apa saja yang diucapkannya, maka dia telah kufur kepada ajaran yang diturunkan
kepada Muhammad (murtad dari Islam)" (HR. Abu Daud, an-Nasa'i, at-Turmizi
dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Hakim).
Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu
berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Bukan golongan kami, orang yang
menentukan nasib sial dan keberuntungan berdasarkan tanda-tanda benda, burung
(dan lain-lainnya), atau yang melakoni perdukunan atau yang bertanya kepada
dukun, atau penyihir atau meminta pada penyihir untuk melakukan sihir, dan
barangsiapa yang mendatangi Kâhin lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka
dia telah kufur kepada ajaran yang diturunkan kepada Muhammad (murtad dari
Islam)" (HR. al-Bazzâr dengan sanad yang bagus).
Oleh karena itu ummat Islam dilarang
mendatangi dukun, tukang sihir, paranormal, orang pintar dan yang lainnya
dengan tujuan apa pun, seperti untuk berobat, konsultasi dalam masalah ekonomi,
jodoh, karir dan lain sebagainya, karena hal itu berbahaya terhadap aqidah dan
akibatnya bisa terjerumus kepada kekufuran dan kesyirikan. Lagi pula mereka
pada hakikatnya tidak mengetahui yang ghaib, dan tidak ada makhluq yang
mengetahui perkara ghaib. Hanya Allah subhanahu wata’ala saja yang mengetahui
hal itu.
Untuk mengelabui ummat Islam dan menjauhkan
mereka dari aqidah dan tauhid yang murni, ada di antara mereka (para dukun) itu
yang berjubah putih dengan menggenggam tasbih di tangannya atau dikalungkan di
lehernya, dan juga nama-nama mereka diembeli dengan gelar dan titel mentereng
lainnya. Mereka seakan-akan orang hebat yang bisa melakukan apa saja yang tidak
bisa dilakukan oleh kebanyakan orang.
Ketahuilah bahwa apa yang mereka lakukan
itu diperoleh dengan mempelajari sihir dan perdukunan. Mereka ini pada
hakikatnya bukanlah ustadz atau kiyai, tapi dukun dan tukang sihir yang
berpakaian seperti ustadz atau kiyai. Mereka adalah budak syaithan yang menjadi
pembuka jalan menuju kekufuran dan kesyirikan.
Cara Mencegah Sihir
Sebelum terkena sihir, maka hendaklah
melakukan tindakan preventif berikut ini sebagai bentuk pencegahan, caranya
adalah:
Menjaga kemurnian tauhid dan ikhlas
beribadah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala saja serta menjauhi perbuatan
syirik dan pelakunya.
Menjaga seluruh kewajiban yang telah
dibebankan pada diri seorang muslim, menjauhi seluruh larangan Allah subhanahu
wata’ala dan Rasul-Nya, serta bertaubat dari segala dosa dan kemaksiatan.
Perbanyaklah membaca Al-Qur'an, dan
hendaklah mewiridkan bacaan al-Qur'an tersebut setiap hari terutama surat Al-Baqarah, karena syaithan akan lari dari rumah
yang dibacakan surat
tersebut.
Membentengi diri dengan bermacam-macam do'a
dan ta'awwudz yang disyari'atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
seperti wirid selesai shalat, wirid pagi dan sore hari dan ibadah-ibadah yang
lainnya yang telah disyari'atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jauhilah ibadah-ibadah bid'ah dan
ritual-ritual klenik yang tidak punya dasar hukum dalam Islam, karena hal itu
merupakan jalan syaithan untuk menjerumuskan orang yang beriman ke jurang
neraka.
Jika memungkinkan hendaklah memakan 7 butir
kurma setiap hari, dan yang lebih utama adalah kurma Madinah/kurma Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Cara Mengobati Sihir.
Setelah terkena sihir, maka lakukanlah
tindakan berikut ini;
Cara Pertama; Mengeluarkan benda sihir yang
dijadikan alat oleh tukang sihir dalam melakukan sihirnya, lalu memusnahkannya
jika hal itu bisa dilakukan, dan ini adalah cara yang sangat efektif dalam
membatalkan sihir ataupun dalam upaya pengobatan terkena sihir.
Cara ke dua; Hendaklah seorang muslim yang
bertauhid, aqidahnya tidak terkotori oleh kesyirikan, dan ibadahnya tidak
terkotori oleh riya`, sum'ah dan bid'ah, meruqyah orang yang terkena sihir
tersebut dengan mengikuti petunjuk berikut ini:
Menumbuk 7 helai daun bidara yang berwarna
hijau, lalu masukkan ke dalam bejana yang sudah terisi air yang cukup untuk
mandi, kemudian bacakan ruqyah berikut ini pada air yang ada dalam baskom
tersebut;
A'ûdzubillâh minasy-syaithânir rajîm,
dilanjutkan dengan membaca ayat kursi (surat
al-Baqarah ayat 255), kemudian surat al-A'râf
ayat 117-122, kemudian surat Yunus ayat 79-82,
kemudian surat Thaha ayat 65-70, kemudian surat al-Kâfirûn,
al-Ikhlash, al-Falaq, an-Nas. Bacakanlah sebanyak 1 X atau 3 X.
Kemudian hendaklah orang yang terkena sihir
meminum air yang sudah dibacakan ruqyah tersebut 3 X tegukan dan selebihnya
pergunakan untuk mandi. Cara seperti ini boleh diulangi berkali-kali hingga
sihir yang ada hilang dengan izin Allah subhanahu wata’ala.
Membacakan surat al-Fatihah, ayat kursi, 2 ayat terakhir
al-Baqarah, al-Ikhlas, al-Falq, an-Nas dan surat-surat atau ayat-ayat yang
lainnya karena pada hakikatnya semua ayat al-Qur'an itu adalah obat. Bacaan
ruqyah ini hendaklah disertai dengan tiupan pada orang yang kesurupan tersebut,
dan hendaklah peruqyah meletakkan tangan kanannya pada tempat-tempat yang
dirasakan sakit oleh penderita. Hal ini diulang hingga 3 X atau lebih.
Kemudian setelah itu bacakan do'a-do'a yang
disyari'atkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam
hadits-haditsnya yang shahih.
Hendaklah yang terkena sihir meletakkan
tangan kanannya pada bagian tubuh yang terasa sakit, seraya membaca, “A’udzu
bi’izzatillahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru (7 kali),
Bismillâhi (3 kali)
Cara ke tiga; Mengeluarkan penyakit dengan
melakukan pembekaman (di bekam) pada bagian anggota tubuh yang tampak ada bekas
sihirnya, jika memungkinkan untuk melakukannya.
Ciri-ciri Dukun
Di antara ciri-ciri dukun:
Menanyakan nama pasien dan nama ibunya
(untuk syarat pengobatan), juga hari dan tanggal kelahiran
Meminta bekas-bekas yang dipakai si sakit
Meminta sembelihan tertentu, kadang dengan
ciri-ciri khusus
Menuliskan rajah-rajah dan huruf-huruf
dengan berbagai susunan yang sedemikian rupa
Membaca mantra yang tidak jelas maknanya
Memberikan sesuatu yang harus ditimbun di
tanah atau sekitar rumah
Memberitahu kan perkara-perkara khusus berkaitan dengan
si pasien
Tampak tanda-tanda kefasikan padanya,
seperti tidak pernah shalat berjamaah, suka kemaksiatan, tidak konsisten dengan
sunnah dan lain-lain.
Rujukan: 1. Al-’Ilaaj fi ar-Ruqo, syaikh
Said al-Qahthani 2. Hukmu as- Sihr wa al-Kahanah, Syaikh Abdul Aziz bin Baz 3.
Brosur “As-Sihr wal ‘Ain wa ar-Ruqyah minhuma,” Fahd bin Sulaiman al-Qadhi.
(Abu Abdillah Dzahabi)
